Kisah Rivalitas Abadi Tottenham Hotspur Vs Chelsea

Posted by FirmLink on Rabu, 04 Januari 2017

 
Siapa bilang atmosfer panas Derby London hanya tersaji dalam duel Arsenal kontra Chelsea, dua tim terbesar ibu kota Inggris? Atau West Ham United melawan Millwall, seperti tergambar dalam film Green Street Hooligans ?

Faktanya bentrok antara dua tim yang terstigma miliki suporter tak fanatik, Tottenham Hotspur dan Chelsea, juga miliki sensitivitas tinggi. Tak percaya? Anda bisa dengan mudah menyimpulkannya dari tawuran kedua tim usai matchday  36 Liga Primer Inggris musim lalu.

Kebencian suporter kedua tim yang menjalar ke seluruh sendi klub, membuat setiap bentrok antara Spurs dan Chelsea berlangsung dengan emosi dan ketegangan hebat.

Bahkan fakta berbicara bahwa rivalitas yang terjadi di antara kedua kubu sudah terjadi sejak lebih dari seabad silam. Tepatnya pada Juni 1905 atau tiga bulan saja selepas Chelsea berdiri.

Ketika itu Chelsea yang dengan bangga menahbiskan diri sebagai klub sepakbola lainnya di London, mendaftarkan diri untuk kompetisi liga Inggris tiga bulan usai berdiri.

Namun secara mengejutkan The Blues justru mendapat penolakan langsung dari komite liga. Tak jelas alasannya, tapi disinyalir hal itu dipengaruhi oleh masukan dari dua klub London yang sudah berdiri terlebih dahulu, yakni Fulham dan Spurs.

Kedua tim merasa bahwa cukup mereka saja yang mewakili nyawa sepakbola London. Sehingga tak perlu ada klub lain di Ibu Kota, seperti Chelsea.

Meski pada akhirnya ada begitu banyak klub terbentuk di London dan menembus kompetisi resmi Inggris, peristiwa itu masih amat membekas buat suporter Chelsea di tiap generasi. Fulham, terutama Spurs yang awet ada di kasta tertinggi hingga kini, lantas jadi musuh abadi publik Biru.

Suhu panas rivalitas Spurs dan Chelsea pun meninggi dan titik api terbesar hadir di final Piala FA 1967 silam, yang mempertemukan kedua tim. Hal itu diungkap oleh sejarawan resmi Chelsea, Rick Glanvill.

“Rivalitas Spurs dan Chelsea ini terjadi sekitar tahun 1960-an. Mulanya kami [Chelsea] kehilangan beberapa bintang yang hijrah ke Spurs. Kemudian kami rutin bertemu, lagi dan lagi," kisah Glanvill, seperti dikutip Four Four Two.

"Para pemain mulai tidak menyukai satu sama lain, para suporter sering terlibat perkelahian dan puncaknya ada di final Piala FA 1967. Terjadi perkelahian di semua tempat, benar-benar kacau," lanjutnya.

Penyebabnya kerusuhan masif di final tersebut tak lain karena rasa dendam suporter Chelsea yang lebih besar pecah, akibat timnya takluk 2-1 dari Spurs.

Rivalitas berlanjut ke salah satu duel paling legendaris di liga Inggris, pada musim 1974/75. Sebuah laga yang dikenal sebagai "Neraka White Hart Lane", tatkala Spurs jadi mula penyebab terdegradasinya Chelsea.

Kala itu Spurs yang diuntungkan bermain di markas sendiri diwajibkan menang untuk selamat dari degradasi. Hal yang sama juga berlaku untuk Chelsea. Duel pun akhirnya tuan rumah menangkan 2-0, tapi melalui proses yang layaknya pertandingan tarkam.

Terdapat begitu banyak pelanggaran membabi buta yang dilakukan para pemain kedua tim. Saking tingginya tensi di partai tersebut, penggawa Spurs, Alfie Conn, sampai melakukan gestur internasional masturbasi usai ditekel bintang Chelsea, Gary Locke.

"Sejatinya Chelsea tak benar-benar terdegradasi akibat kekalahan tersebut. Tapi hasl itu memang membuat mereka gagal menang di dua laga berikutnya, yang pastikan degradasi. Terpenting adalah fakta suporter Chelsea berpikir Spurs yang membuat tim kesayangannya terdegradasi," terang Glanvill.

Setelah sedikit mereda dalam beberapa waktu berikutnya, kebencian Spurs dan Chelsea akhirnya kembali meledak 5 Februari 2016. Tepatnya di matchday ke-36 EPL musim lalu.

Spurs diwajibkan menang di Stamford Bridge, markas Chelsea, untuk jaga kans jadi kampiun EPL buat kali perdana. The Lily Whites mengawalinya dengan sangat brilian, lantaran raih keunggulan 2-0 saat turun minum.

Namun Chelsea ternyata mampu bangkit di babak kedua hingga akhiri laga lewat hasil imbang 2-2! Hasil imbang yang membuat Spurs merelakan gelar ke Leicester City itu pun dirayakan para penggawa The Roman Emperor dan publik Stamford Bridge dengan begitu antusias.

Pemandangan itu ternyata menyulut emosi pemain para pemain Spurs. Tawuran antar pemain sampai star kedua tim pun terjadi dengan begitu brutal. Gelandang Spurs, Moussa Dembele jad sorotan utamanya, karena setelahnya dihukum enam laga beruntun akibat gestur mencungkil mata striker Chelsea, Diego Costa.

“Suporter, klub, para pemain, dan kami tidak pernah ingin Tottenham Hotspur jadi juara Liga Primer Inggris," ujar frontman Chelsea, Eden Hazard, di matchday of the day sebelum laga, yang kemudian diterjemahkan dengan sempurna di atas lapangan.

Berbicara statistik, meski Spurs lebih superior di periode awal sepakbola Inggris, sekarang mereka harus mengakui keunggulan yang dimiliki Chelsea. Dari total 156 laga resmi yang mempertemukan kedua tim, Si Bunga Lili menderita kekalahan sebanyak 66 kali, imbang 40 kali, dan menang 50 kali.

Menyinggung perolehan gelar, Spurs pun kembali harus mengakui keunggulan Chelsea -- meski tipis -- utamanya sejak akuisisi Roman Abramovich pada 2003 lalu. Chelsea superior dalam koleksi gelar divisi utama/EPL (lima berbanding dua), Piala Liga Inggris (lima berbanding empat), dan Liga Champions (satu berbanding nol).

Sementara Spurs unggul di ajang-ajang yang kelasnya sedikit di bawah, lewat gelar Piala Liga Inggris (delapan berbanding tujuh), Community Shield (tujuh berbanding empat), dan setara di Piala WInners/UEFA (sama-sama koleksi tiga trofi).

Dengan kedua tim kini makin menegaskan persaingannya di papan atas EPL, tampaknya kita masih akan mendapati banyak kisah panas dari bentrok klasik antara Spurs dan Chelsea.

Blog, Updated at: 07.12

0 komentar:

Posting Komentar